BOGOR – Di balik rimbunnya perbukitan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, sebuah gerakan sunyi namun berdampak besar sedang berlangsung. Yayasan Hubbul Wathon Indonesia 19 (HWI 19), yang bermarkas di kawasan Wisata Leuwi Pangaduan, kini bertransformasi menjadi role model nasional dalam program deradikalisasi berbasis kemandirian ekonomi.
Didirikan oleh para mantan Narapidana Teroris (Napiter), yayasan ini bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sebuah pernyataan sikap untuk kembali ke pangkuan NKRI. Pembina Yayasan HWI 19, Ustaz Haris Amir Falah, menegaskan bahwa perubahan haluan ini adalah bentuk “Hijrah yang Sesungguhnya.”
Membedah Akar Radikalisme: Kekeliruan dalam Memahami Agama
Dalam berbagai kesempatan wawancara dan podcast, Haris Amir Falah—yang juga penulis buku “Hijrah dari Radikal kepada Moderat”—kerap menyoroti bagaimana paham radikal masuk melalui celah emosi dan pemahaman agama yang sempit.
“Radikalisme sering kali lahir dari semangat beragama yang besar namun tidak dibarengi dengan ilmu yang luas. Kita dulu melihat dunia hanya hitam dan putih, kawan atau lawan,” ujar Haris dalam salah satu sesi diskusi.
Ia menjelaskan bahwa proses indoktrinasi biasanya memanfaatkan narasi ketidakadilan untuk memicu perlawanan fisik. Namun, setelah melalui proses panjang kontemplasi di balik jeruji besi, Haris menyadari bahwa jihad yang paling utama di tanah damai seperti Indonesia adalah membangun kemaslahatan umat, bukan merusaknya.
Himbauan kepada Pelaku Teror: “Segeralah Hijrah”
Bagi mereka yang masih terpapar atau berada dalam jaringan radikal, Haris Amir Falah menyampaikan pesan mendalam yang sering ia gaungkan di media:
”Kepada teman-teman yang masih memiliki pemikiran ekstrem, saya ajak untuk segera hijrah. Hijrah bukan berarti meninggalkan Islam, tapi meninggalkan pemahaman yang merusak citra Islam itu sendiri. Mari kita lihat kenyataan, aksi teror hanya menyisakan luka bagi keluarga dan menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai agama yang rahmatan lil ‘alamin.”
Beliau juga menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk waspada terhadap rekrutmen melalui media sosial yang kini semakin masif dan menyasar emosi anak muda.
Pemberdayaan Ekonomi di Leuwi Pangaduan
Yayasan HWI 19 membuktikan komitmennya melalui aksi nyata. Melalui unit usaha Agrowisata Leuwi Pangaduan, para eks-napiter kini bahu-membahu dengan masyarakat lokal mengelola sektor pariwisata, peternakan sapi, hingga rumah Quran.
Baru-baru ini, pada akhir 2025, yayasan ini mendapatkan apresiasi dari Bakesbangpol Kabupaten Bogor atas inisiatifnya membangun komunikasi yang harmonis dengan pemerintah daerah. Hal ini membuktikan bahwa reintegrasi sosial dapat berjalan efektif jika dibarengi dengan akses ekonomi yang produktif.
”Kami ingin menunjukkan bahwa mantan napiter bisa bermanfaat bagi warga Bogor. Kami bukan lagi ancaman, tapi mitra dalam pembangunan,” pungkasnya.
Tentang Yayasan Hubbul Wathon Indonesia 19 (HWI 19):
Yayasan HWI 19 adalah organisasi sosial yang berbasis di Desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Bogor. Berdiri sejak tahun 2020, yayasan ini berfokus pada bidang sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi sebagai sarana deradikalisasi mandiri bagi para mantan narapidana teroris.




